Aku dan Kota Santri-ku


Gapura lokalisasi, aspal yang retak dan bergelombang, itulah awal sambutan ketika menggusur roda motor ke kota kelahiran. Kota yang banyak kenangan, kota yang menjadi titik awal kehidupanku, kota yang menjadi kebesaran keluargaku, itulah kotaku Kota Tasikmalaya. Aku cukup bangga bisa tinggal disini dan menjadi salah satu warganya, Tasikmalaya punya sejarah, walaupun setiap kota punya sejarah, paling tidak kotaku ini punya sejarah yang ditulis dalam buku-buku mata pelajaran sejarah baik di menengah pertama maupun menengah atas, walaupun sejarah itu disebut pemberontak dan menjadi basis DI/TII yang berarti KW supernya ada disini di Tasik. Kotaku ini di pimpin oleh tukang sunat (tukang khitan), kalau tidak salah dulu juga aku di khitan oleh beliau dan mungkin sudah banyak anak laki-laki yang senasib denganku (disunat sang walikota). Kotaku memang di pimpin tukang sunat tapi semoga saja profesinya tidak diterapkan dalam hal menyunat hak-hak warganya, menyunat pajak-pajak untuk kantong pribadi, dan menyunat lainnya.

Kotaku punya alun-alun, kota lainnya juga pasti punya tapi alun-alun kotaku ini sangat unik. Alun-alun kotaku ini multifungsi, bisa dipake buat tawuran, bisa di pake untuk mejeng-mejengan, bisa dipake buat tempat judi, bisa dipake juga buat mangkal, oh iya bisa juga di pake futsal, itulah alun-alun kotaku.

Kotaku punya kompleks olahraga yang dinami Dadaha, itu nama resminya tapi sering diselewengkan menjadi Dada dan Paha, memang kesannya humor tapi pasti ada sebabnya kenapa bisa diselewengkan seperti itu. Dadaha punya stadion, Dadaha punya gelanggang olahraga yang salah satunya dinamai Susi Susanti, Dadaha punya kolam renang (kadang warna airnya hijau), Dadaha punya lapangan terbuka yang luas dan sering dipake buat acara-acara besar (konser, Tasik Fair, dll), Dadaha juga punya “dada dan paha”, kalau hari sudah malam Dadaha jadi tempat lokalisasi, itulah Dadaha di kotaku.

Kotaku disebut kota santri, mungkin karena banyaknya jumlah pesantren dan santri, entahlah bagiku perlu evaluasi dan berkaca diri. Kotaku memang candu dan rindu, kotaku kota Tasikmalaya.

4 responses to “Aku dan Kota Santri-ku

  1. Si Ajiii, kamu mah nyeritain kota sendiri teh kalahka ngahina-hinaaa, ahahaa :))) Kaco! Oh iya, Nisa jadi sadar kalo Tasik kota DI/TII sejak masuk ke Museum Mandala Wangsit, ih serem amat:/

  2. Ah, Aji wordpress jadi nggak bisa papolow2 :O

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s